Hijrah Rasulullah

Hijrah tidak saja berarti mengesampingkan kepentingan seseorang, mengorbankan harta dan menyelamatkan jiwanya saja, tetapi harus disertai dengan kesadaran bahwa dirinya juga telah dihalalkan dan terampas, bisa jadi meninggal di awal perjalanan atau di akhirnya. Demikian juga, menyadari bahwa dirinya akan berjalan menuju masa depan yang masih tidak menentu, dia tidak tahu ketidakstabilan dan kesedihan apa yang menjadi dampak darinya.
Kaum muslimin mulai berhijrah, sementara mereka telah mengetahui semua resiko itu. Di lain pihak, kaum musyrikin berupaya menghalang-halangi keberangkatan mereka sebab sudah merasakan apa implikasinya kelak.

Banyak kisah mengharukan terjadi selama hijrah dari mekkah ke madinah. Seperti yang dialami oleh orang pertama yang berhijrah yaitu Abu Salamah. Ikut serta bersamanya, istri dan putranya.
Ketika dia sudah sepakat berangkat, para iparnya melarang istri dan anaknya untuk turut serta bersama Abu Salamah. Keluarga Abu tidak terima dengan perlakuan itu sehingga mereka merebut paksa anak Abu Salamah dari ibunya. Abu Salamah berangkat sendirian menuju Madinah sedangkan ummu Salamah setiap pagi sering pergi ke sebuah tempat bernama Abthah, dia menangis di sana hingga sore hari. Hati wanita mana yang tak pilu jika dipaksa untuk berpisah dengan suami dan anaknya. Setahun kejadian itu berlalu. Hingga kerabat ummu salamah tidak tega dan mengijinkannya untuk menemui suaminya.

Dari kisah hijrah Rasulullah SAW kita juga belajar untuk tidak serta merta memandang orang yang pada kehidupannya sekarang tampak buruk bahkan tidak beriman, akan tetap demikian. Kisah Suraqah yang hampir berhasil membunuh Rasulullah SAW dengan tombak dan panahnya dalam jarak yang amat dekat. Namun seketika kudanya terperosok ke tanah hingga batas lutut, dan ketika bangkit mengepullah langit seperti asap. Lantas ia mengundi apa yang harus ia lakukan dengan menggunakan anak panah, tapi yang keluar adalah apa yang ia benci, artinya dia harus melepas tujuan untuk membunuh Rasulullah SAW. Dan terbersitlah keyakinan dalam dirinya bahwa apa yang dibawa Rasulullah SAW akan mendapatkan kemenangan. Suraqah kembali kepada kaumnya dan menghasut mereka untuk menyerah. Demikianlah, di pangkal hari dia sebelumnya sebagai orang yang gigih mengejar Rasulullah SAW dan Abu bakar, tetapi di penghujung hari justru menjadi pelindung bagi keduanya.

Dari kisah Hijrah Rasulullah SAW kita juga mendapatkan contoh kisah nyata kesetiaan dari sahabat perjuangan, yang diajarkan Abu Bakar. Memapah Rasulullah SAW untuk mencapai bukit yang kita kenal dalam sejarah sebagai Gua Tsur. Abu Bakar tak mengijinkan Rasulullah SAW masuk ke gua hingga ia masuk terlebih dahulu lalu menyapunya. Ketika menemukan beberapa lubang ia menyobek kainnya dan menyumbatnya, lantas menutup dua lubang yang tersisa dengan kakinya. Baru kemudian ia mempersilakan Rasulullah SAW untuk masuk, merebahkan kepalanya lalu tertidur. Hingga Rasulullah terbangun akibat air mata Abu Bakar yang menetes membasahi wajahnya akibat gigitan ular dari arah lubang, namun Abu Bakar berusaha untuk tidak bergerak sedikitpun untuk tidak mengganggu Rasulullah SAW yang terlelap.
Hijrah pada dasarnya dapat kita maknai sebagai berpindahnya kita dari kondisi yang buruk menuju yang lebih baik, atau semakin baik lagi. Memang tidak mudah melalui perjalanan dalam hijrah. Dari yang sebelumnya belum berhijab kemudian membulatkan tekad untuk berhijab, pergaulan yang sebelumnya bebas namun Nampak menyenangkan menjadi lebih terjaga, melawan bisikan perasaan bagi hati untuk melakukan suatu hal yang tak dirihoiNya.
Memaknai hijrah pada zaman Rasulullah SAW, kita diajarkan untuk merelakan apa saja yang kita senangi demi menjalankan perintah-Nya.

Jangankan teman yang sedari dulu dekat dengan kita, bahkan Abu Salamah harus merelakan istri dan anaknya, namun Allah Maha Baik mempertemukan mereka kembali di kemudian hari.

Memaknai hijrah, kita diajarkan untuk tidak memandang orang lain lebih buruk dan tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk menjadi lebih baik, bahkan yang hendak membunuh Rasulullah SAW pun pada akhirnya menjadi pelindungnya. Maka mengajak setiap orang sama-sama berhijrah harus dengan rasa optimis dan perasangka baik kepadaNya. Tidak ada yang tau akhir kehidupan dari setiap orang, yang kita inginkan adalah bersama sama dengan saudara kita di JannahNya bukan?

Memaknai Hijrah, kita disadarkan bahwa jalan yang kita tempuh tidak akan mudah. Namun yakinlah bahwa akan dikirimkan sosok sahabat dalam perjuangan bagi diri kita yang akan senantiasa menemani sepahit apapun kondisi yang kita lalui, untuk sama-sama menuju apa yang menjadi KeridhoanNya. Jika apa yang kita lakukan adalah menuju pada-Nya, dan Dia mencintai apa yang kita kerjakan, maka tak ada yang berkuasa untuk melemahkan kita, ataupun menimpakan keburukan pada diri kita. Banyak sakit yang mungkin akan kita rasakan selama berproses, tapi jika diri kita yakin bahwa tekad bulat itu adalah semata mata untuk-Nya, sakit itu akan berubah menjadi ketentraman, yang tak dapat dirasakan oleh orang-orang yang tak pernah bertekad untuk Hijrah menuju pada-Nya. Kita dapat lebih memaknai setiap detil kebahagiaan yang selama ini sebenarnya telah ia anugerahkan. Karena jika kita telah mengarahkan hati kita kepadaNya, hati dan pikiran kita akan terbebas dan menjadi seluas samudera.

Saudaraku, hati mungkin terkadang bengkok dan raga mudah lelah, maka kita saling membutuhkan untuk melalui perjalanan hijrah yang begitu panjang dan tak ketahui ujungnya ini, agar senantiasa meluruskan di kala bengkok, menarik di kala terhempas, atau bahkan menyeret jika diri sudah sangat tak berdaya. Mari berhijrah dan semangat untuk memperbaiki diri.

Tulisan oleh Nisaul Muthoharoh (Ketua BKPM FPPI FKIP Unila 2016)
Editor: Hendi Nur Pratama (Ketua Bidang Penerbitan dan Media Islam FPPI FKIP Unila 2016)

Belajar dari Dandelion

Bukan hal yang mudah ketika mendapati kenyataan tidak sesuai dengan keinginan. Lalu nafsu bernama amarah menyelinap masuk, mengalir melalui pipa-pipa kapiler dalam tubuh, mengetuk neuron untuk menyalahkan keadaan. Ingin marah, tapi pada siapa? Ingin memaki, tapi pada siapa? Lalu ketika amarah itu telah berhasil menjadi raja, menguasai wilayah hipotalamus, tetapi tidak menemukan tempat bermuara, pada akhirnya kemarahan itu diluapkan dalam bentuk penuduhan kesalahan terhadap Allah. Marah pada keadaan, benci pada kenyataan, memaki Allah telah berbuat ketidakadilan, bunuh diri menjadi pelarian. Na’udzubillahi min dzalik, seperti itukah perilaku seorang yang ‘katanya’ memiliki iman?

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqoroh (2) : 216)

You just need to believe. Hanya butuh percaya. Percaya apa? Percaya bahwa Allah adalah penulis skenario terbaik yang tidak akan mungkin menulis keburukan untuk aktor/aktrisnya di muka bumi. Percaya bahwa Allah telah menyiapkan ganti yang lebih baik atas setiap ingin yang tidak terwujud. Percaya bahwa Allah pasti menyimpan jawaban indah tidak kasat mata atas setiap hal yang kita pandang sebagai suatu ketidakadilan. Percaya bahwa Allah selalu bersama dengan hamba-Nya yang bersabar. Percaya bahwa Allah akan memberi hadiah terindah atas setiap keikhlasan. Percaya bahwa Allah memberi beban ujian karena memang pundak kita mampu memikulnya.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo’a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS Al-Baqoroh (2) : 286)

Belajar dari dandelion.

Dandelion yang tidak pernah membenci angin yang telah menerbangkannya, sekalipun di tempat asalnya segalanya telah tercipta dengan apik di sana. Dandelion yang tidak pernah berkeluh kesah harus meninggalkan tempat yang dicintainya. Dandelion yang selalu percaya bahwa ditempatnya yang baru Penguasa Alam telah menyiapkan segala hal untuknya. Dandelion yang berterbangan dari tempat satu ke tempat yang lain, lalu tumbuh dan kembali mengindah di tempat yang baru. Tiada makian, tiada celaan, tiada kebencian. Tentang sebuah penerimaan. Bahwa penerimaan itu indah. Bahwa kerelaan atas takdir itu menenangkan hati yang resah. Bahwa dalam setiap jengkal kehidupan menyimpan hikmah.

Pada akhirnya semua bergantung pada bagaimana hati menerimanya. Padahal hati kita lemah, mudah terombang ambing laksana pakaian yang dijemur terkena terpaan angin. Terbang ke sana, terbang ke sini, bahkan mungkin saja terjatuh lalu kotor berkalang tanah. Tapi begitulah adanya hati manusia. Maka sungguh sudah sepatutnya doa singkat ini selalu tersemat dalam pinta-pinta kita di setiap waktunya.

“Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbi ‘alaa diinik(a). Yaa mushorrifal quluub, ishrif qolbi ‘alaa tho’atik(a). Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku atas agama-Mu. Wahai Dzat yang memalingkan hati, palingkan hatiku atas menaati-Mu.”

Demikian. Semoga bermanfaat.

Oleh: Ana Zuhriatun Nisa

Hati-Hati, Pemikiranmu Sedang Diperangi!


Pict source: http://pijar.net/ghazwul-fikri/

Perang? Pemikiran? Sudah pernah dengar istilah ini? Jika terasa asing, bagaimana dengan istilah ghazwul fikr? Pernah mendengarnya?

Di era global ini, ummat cenderung didekatkan pada urusan-urusan duniawi yang melenakan serta dijauhkan dari ajaran-ajaran Islam yang mendamaikan. Pemikiran-pemikiran ummat diatur sedemikian rupa untuk mendamba dunia, seolah setelah raga tidak lagi bernyawa tidak ada pertanggungjawaban yang diminta. Jika ada ungkapan, “letakkan dunia di tanganmu, bukan di hatimu”, maka saat ini ungkapan itu tidak berlaku, sudah diputarbalikkan menjadi, “letakkan dunia di hatimu, bukan di tanganmu.” Nggak percaya? Kalau dikasih pilihan ngaji atau pikachu, kamu pilih mana? Tanyakan pada hatimu deh, kalau kamu masih berpikir pilih ngaji atau pikachu, itu sudah mengindikasikan kalau dunia memang sudah merasuki hatimu. Nah loh!

Ironisnya, mayoritas sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia mengarahkan para peserta didik menjadi manusia dengan pola pikir sekuler. Terbukti dengan porsi pelajaran agama Islam yang sangat minim di sekolah-sekolah, umumnya diberi porsi hanya 2-3 jam pelajaran dalam satu minggu. Ilmu agama minimalis dan juga dikesampingkan, maka tidak usah heran bila banyak peserta didik yang meski pintar namun moralnya berantakan. Pacaran dianggap wajar, bila tidak pacaran disangka tidak normal. Merokok dianggap jagoan, bila tidak merokok dianggap tidak kekinian. Kalau sudah begini siapa yang akan dikambinghitamkan?

Masalah ummat tidak berhenti sampai di situ saja. Masih ada tambahan pencitraan media yang terlampau berlebih dalam mem-blow up isu-isu yang mengerdilkan Islam, misalnya terorisme. Merebakkan virus Islamophobia yang membuat ummat Islam menjadi ketakutan dengan agamanya sendiri. Islam dipandang sebagai agama yang radikal, fanatik, intoleran, dan pandangan negatif lainnya. Menganggap aneh mereka yang berjilbab syari, seolah makhluk asing dari luar angkasa. Memandang heran mereka yang membawa al-quran ke manapun perginya, membaca al-quran di manapun tempatnya, seolah alien dari planet seberang. Akhirnya timbul anggapan, ah kuno banget sih pake jilbab sepanjang itu! Ah ngapain rajin baca al-quuran, itu untuk anak kecil! Ah ngapain baca al-quran, ini bukan bulan Ramadhan!

Ghazwul fikr atau perang pemikiran di Indonesia memang telah menuai hasil. Sedikit demi sedikit nilai dan kebiasaan Islam luntur, kemudian dianggap tabu, aneh, dan tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Mahasiswa –yang katanya kaum intelektual- hanya fokus pada mengejar nilai di atas kertas. Tidak peduli cara yang digunakan halal atau haram, yang penting huruf yang tercetak harus A! Beranggapan bahwa ijazah yang dihiasi penuh huruf A akan menjadikan mereka seseorang yang dipandang oleh masyarakat. Padahal, sejatinya mau sebesar apapun nilai yang terukir rapi di atas ijazah, mau sebanyak apapun huruf A yang menghiasinya, toh pada akhirnya Allah yang menentukan rezeki setiap hamba.

Itulah sebabnya, di era ini dakwah harus terbuka dengan dunia. Bukan berarti mengubah apa yang sudah ada, melainkan juga memandang apa yang dikehendaki oleh kaum-kaum penghancur ummat. Memanfaatkan media-media yang ada sebagai sarana dakwah, bukan justru mengisolasi diri dan meneriakkan itu bid’ah. Sudah seharusnya seorang da’i memberi semangat luar biasa kepada objek dakwahnya, sebagaimana Rasulullah memanggil ruh jihad para shahabat untuk bergerak maju ke medan pertempuran. Tidak ada yang perlu ditakutkan dengan panah dan pedang, sebab syahid adalah impian.
Menguatkan jiwa muda dengan keilmuan dan cerdas pemikiran. Memperbanyak ilmu, memperdalam agama, mempertajam lisan dengan quran dan sunnah, lalu membersamai setiap niat, ucap, dan tingkah dengan berpedoman pada al-quran dan sunnahnya.

Ditulis oleh Mustofiarudin (Ketua Umum FPPI)
Editor: Ana Zuhriatun Nisa (Sekretaris Bidang PMI FPPI)

Hiduplah Layaknya Orang Hidup


Pict source: http://www.dakwatuna.com/2013/06/03/34359/hidup-untuk-menghidupkan/#axzz4GemRUWY5

Judul yang sedikit menggelitik dan membingungkan. Hiduplah layaknya orang hidup. Bah! memang selama ini hidup kita tak seperti orang hidup? Wah jangan salah pengertian dulu lah, Bang. Mari kita jembrengkan apa maksud dari judul itu.
Hidup dalam pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Balai Pustaka edisi tahun 2011, diartikan sebagi masih terus ada; bergerak; bekerja sebagaimana seharusnya.
Jika mengacu pada pengertian tersebut, kita dapat menyebut ada tiga intisari dari hidup. Manusia dikatakan hidup jika ‘ada’ (exist), jika bergerak (moving), dan jika bekerja dengan benar (memiliki makna dan tujuan).

1. Hidup adalah eksis

Eksis di sini bukan artis yang selalu unjuk gigi di layar televisi. Bukan juga yang sering uplode video di instagram. Hidup adalah eksis dalam konteks ini bukan sekedar “ada” secara fisik tetapi “ada” secara spiritual. “Ada” secara fisik adalah terpenuhinya kebutuhan primer (Basic needs) agar kita dapat bertahan hidup. Sementara “ada” secara spiritual berarti kita membutuhkan pengakuan dari orang lain. Jika hidup secara fisik bersifat nyata, hidup secara spiritual bersifat abstrak. “Ada” secara spiritual tidak akan berhenti meski kematian menjemput.

Contoh dari kehidupan spiritual yang bersifat abadi dan tidak bisa dimusnahkan oleh kematian ialah kehidupan suri tauladan kita, Nabi Muhammad saw yang berada di urutan nomor satu dari 100 Tokoh Paling Berpengaruh yang di tulis oleh Michael H. Hart.

2. Hidup adalah gerak

Masihkah kita ingat pelajaran mengenai planet? Ada berapa sekarang jumlah planet di tata surya kita? Selama ini kita mengetahuinya ada sembilan tapi ternyata penelitian mutakhir membuktikan bahwa jumlah planet di tata surya hanya delapan.

Pada tahun 2006 di Praha, Ceko, Himpunan Astronomi Internasional mengadakan sidang umum ke-26 untuk mencabut status Pluto sebagai planet kesembilan dalam tata surya. Menurut sidang yang dihadiri 2.500 astronom dari 75 negara, benda angkas dapat dikatagorikan planet apabila benda tersebut memiliki orbit yang mengelilingi matahari, memiliki masa yang cukup besar dengan diameter lebih dari 800 kilometer, dan memiliki orbit yang tidak memotong orbit planet lainnya.

Lalu, apa hubungannya planet Pluto dengan hidup?

Kita dikatakan hidup jika kita bergerak. Dalam bergerak kita tidak boleh sembarangan. Jika kita bergerak lamban, kita akan hilang tergilas seperti nasibnya Pluto. Maka untuk bertahan hidup kita harus bergerak cepat dan tangkas. Gerakan yang lamban membuat keberadaan kita tidak diperhitungkan. Kita akan mati sebelum mati. Gerak yang dimaksud disini dalam aspek fisik, akal pikiran, dan hati nurani.

Sebab inilah mengapa Allah memerintahkan kita untuk melaksanakan sholat. Sholat yang dilakukan teratur dan berulang dengan tujuannya menyehatkan fisik, pikiran dan hati. Gerakan sholat yang dilakukan secara teratur dan berulang sama halnya dengan gerakan olahraga untuk melatih fisik agar tetap sehat, kemudian menyehatkan pikiran melalui bacaan sholat yang kita lantunkan, dan juga sholat dapat menyehatkan hati karena kita secara teratur melatih hati untuk mengingat Allah. MasyaAllah.

3. Hidup memiliki makna dan tujuan

Siapakah kamu? Dari mana asalmu? Apa yang kamu lakukan di bumi ini? Mau ke manakah kamu?

Sebagian dari kita mungkin sudah mengetahui apa makna dan tujuan hidup kita, tapi kebanyakan pula dari kita yang masih mencari apa makna dan tujuan hidupnya. Jika kita menjalani hidup tanpa makna dan tujuan, kita ibarat berjalan dalam gelap tanpa cahaya. Kita menjadi seperti orang buta yang tidak tahu harus ke mana. Kalau mencoba menerobos kegelapan tanpa bantuan cahaya, kita hanya memperbesar resiko untuk tersesat, terselandung, menginjak kerikil yang tajam, atau lebih parah terperosok ke dalam jurang. Duuh mengerikan ya!

Makna dan tujuan hidup bagi setiap orang berbeda-beda, tergantung bagaimana kita memaknai hidup ini. Tapi sejatinya makna dan tujuan hidup yang sebenarnya adalah ketika kita mampu mengisi hidup dengan sesuatu yang berharga untuk diri sendiri juga untuk orang lain.

Semoga kita semua dapat hidup layaknya orang hidup, seperti ungkapan lama dari Buya Hamka, “kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja”.

*Referensi buku The Balance Ways karya M.K. Sutrisna Suryadilaga

Ditulis oleh Yayu Asnaini (Anggota Bidang PMI FPPI)
Editor: Ana Zuhriatun Nisa (Sekretaris Bidang PMI FPPI)

Seret Aku Ke Surga

Pict source: http://www.infoyunik.com/2015/04/mengenal-pintu-surga-dan-golongan-yang.html

Betapa banyak ayat yang menggambarkan surga maupun neraka yang telah dihafalkan oleh umat manusia. Sekalipun tidak menghafalkannya, setiap manusia tentu tahu bahwa surga itu teramat indah, di dalamnya penuh dengan kenikmatan yang bahkan belum pernah terbayangkan, sedangkan neraka itu teramat buruk –seburuk-buruknya tempat-, di dalamnya penuh dengan siksaan yang juga belum pernah terbayangkan. Andai diberi sebuah pertanyaan, “maukah Anda masuk surga?” Tentu manusia akan mengangguk mantap, dan menjawab yakin dengan jawaban“pasti mau” atau “tentu saja” atau jawaban lain yang mengindikasikan bahwa tidak ada satupun manusia di dunia yang menolak surga.

Kabar baik bagi manusia bahwa Allah memberi kesempatan setiap insan bisa meraih surga-Nya. Kabar buruknya adalah untuk meraih sebuah kebaikan tentu dibutuhkan pengorbanan, bukan? Bahkan seringkali pengorbanan itu tidak sedikit, ada harga sangat mahal yang harus dibayar. Bayangkan manusia dihadapkan pada dua jalan berikut. Jalan pertama adalah jalan beraspal yang begitu mulus. Tidak ada hambatan apapun di dalamnya. Setiap manusia dapat melaju di jalan tersebut dengan kecepatan berapapun yang dia mau. Ditambah lagi dengan pemandangan di kanan kiri jalan yang memanjakan mata. Tetapi pada ujung jalan tersebut ada jurang yang di dalamnya penuh dengan binatang buas, duri-duri tajam, dan sesuatu lain yang sangat berbahaya. Barang siapa yang masuk ke dalam jurang tersebut, niscaya dia tidak akan pernah bisa naik kembali. Lalu di sebelahnya ada jalan berbatu yang sangat terjal dan lancip. Bukan hanya batuan terjal nan lancip, jalanan itu juga penuh dengan duri yang bisa melukai kapan saja, juga dilengkapi dengan jurang di kanan kirinya yang membuat bulu kuduk berdiri menyaksikan kengerian jurang tersebut. Jalan itu amatlah sempit hingga hanya cukup bagi satu orang ketika melaluinya. Tetapi pada ujung jalan tersebut ada taman keindahannya tidak akan ditemui pada tempat manapun di dunia. Taman itu memiliki kolam susu, madu, juga arak dengan kenikmatan tiada tara yang bisa dinikmati oleh setiap penghuninya. Di taman itu juga disediakan rumah-rumah yang terbuat dari emas dan berlian, dan berbagai fasilitas lain yang sangat memanjakan setiap yang berada dalam taman itu. Lalu jalan manakah yang akan dipilih? Jawabannya ada pada pilihan masing-masing.

Jalan mulus itu merupakan analogi jalan menuju neraka, sedangkan jalan terjal itu merupakan analogi jalan menuju surga. Tidak ada yang mudah dalam meraih kesuksesan, dibutuhkan banyak pengorbanan, baik harta bahkan nyawa. Sayangnya hati manusia mudah sekali terlena pada hal-hal yang membuatnya memilih jalan mulus berujung petaka. Mendamba nikmat sesaat yang fana, mengejar keindahan dunia yang tak lama, hingga pada saat jasad telah dipeluk tanah, jiwa baru tersadar bahwa pilihan yang dibuat dulu salah. Ingin kembali memperbaiki diri, berbuat kebaikan di sana-sini agar mendapat pahala yang dinanti, tetapi sayang waktu tidak mungkin diputar kembali. Jasad yang telah mati tidak mungkin hidup lagi, ruh yang telah pergi tidak mungkin masuk tubuh lagi. Tinggal sesal yang menghakimi diri. Maukah seperti itu?

Lalu ketika kesadaran mulai terbuka, diri akan mulai merutuki hati karena enggan melaksanakan kebaikan meski paham akan manfaatnya. Tidak perlu menunggu hati sempurna untuk melakukan kebaikan, karena Sang Pemilik hati sungguh mengerti betapa lemahnya hati manusia. Hati yang mudah terkoyak, patah, hancur, terombang-ambing, terbolak-balik, pagi memilih A tetapi sore memilih B.

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat.” (QS At-Taubah : 41)

Begitulah firman Sang Penggenggam kehidupan. Dia tidak menyuruh manusia untuk sempurna, melainkan Dia menyuruh manusia untuk berbuat kebaikan meski keadaannya ringan atau berat. Berbuat baik meski hati tidak sebening embun pada pucuk daun, karena justru kebaikan itulah yang akan membersihkan hati dan membuatnya sebening embun.

Maka wanita yang terpaksa berhijab karena tuntutan orang tua, pemuda yang dibatasi pergaulannya, anak yang dikurangi waktu bermainnya untuk menghafalkan ayat-Nya dalam kitab suci, bahkan teman yang sangat kesal karena selalu diajak mengaji, kelak akan mengucap terima kasih pada orang-orang yang mengarahkannya. Akan terbersit syukur yang meruah dalam dadanya karena Allah telah izinkan dia tuk bertemu dengan orang-orang yang tidak kenal lelah mengajaknya dalam kebaikan.

Kudapati itu pada diriku, wahai orang-orang yang telah Allah kirim untuk mengarahkanku pada kebaikan. Pada ayah, ibu, guru, dan kau saudariku. Akan selalu kubutuhkan sosok-sosok sepertimu, yang tidak lelah mengingatkan saat aku lupa, tidak lelah menguatkan saat aku lemah, tidak lelah mengangkat saat aku jatuh. Padahal aku tahu kau bahkan masih sering alpa, kau sering merasa dirimu lemah tanpa daya, tidak jarang kau terjerembab dalam kekhilafan manusia, tapi itulah yang kau jadikan sumber kekuatan untuk tetap istiqomah di jalan-Nya. Sekalipun jangan pernah ragu untuk selalu menarikku, menyeret aku menuju surga-Nya, memaksaku untuk kebaikan agar kelak kita bersama-sama bertemu dengan-Nya, karena kelak akan kau dapati kesyukuran tidak terkira itu kuucapkan kepadamu, keluargaku yang aku cintai karena Allah.

Spesial untuk keluargaku, FPPI FKIP Unila. Terima kasih telah menjadi perantara diri ini untuk terus bersemangat di jalan-Nya.

Ditulis oleh Nisa’ul Muthoharoh (Ketua BKPM FPPI FKIP Unila 2016)
Editor: Ana Zuhriatun Nisa (Sekretaris Bidang PMI FKIP Unila 2016)

Berpasang-pasangan

Well, saat baca judulnya apa yang terlintas di pikiran teman-teman? Oke mimin tebak ya! Pasti kalian berpikir tentang sepasang lelaki dan perempuan yang saling mencintai, lalu disatukan dalam mahligai indah pernikahan? Benar kan? Anggapan itu tidak salah, tapi tidak benar juga. Karena sejatinya berpasangan itu bukan hanya tentang pernikahan, tapi jauh lebih luas dari itu. Let’s open our eyes, our mind, and our heart!

Oke kembali ke topik berpasang-pasangan (jangan baper dulu loh, wkwk)
Sebelum lebih jauh, mari kita baca dan renungkan firman Allah Swt berikut.

”Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (QS Adz-Dzariyat : 49)

Nah tuh, Allah aja udah bilang kalau segala sesuatu itu memang diciptakan berpasang-pasangan, berarti bukan hanya tentang pernikahan dong, hehehe.

Dalam mengarungi lautan kehidupan inipun –kalau kita tafakkur- segala sesuatu memang ditemukan dalam keadaan berpasangan. Andai kita melihat sesuatu itu sendiri -mungkin dia jomblo- hehehe. Baik bukan begitu maksudnya, mungkin saja kitalah yang belum tahu pasangan dari sesuatu tersebut. Pun demikian dalam sebuah organisasi. Ada struktur kepengurusannya yang tentu saling berpasangan satu dengan yang lain, baik presidium inti maupun di setiap bidangnya. Ada ketua umum dengan wakil ketua umum. Ada sekretaris umum dengan bendahara umum. Ada kepala bidang/departemen/divisi/dinas/bagian dengan sekretarisnya.

Baik sekarang mari kita berdiri di depan kaca. Amati diri kita dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bahkan dalam cerminpun kita menjadi berpasangan bukan? Meski itu dengan bayangan kita sendiri. Mari kita sejenak bermonolog dengan diri kita masing-masing, menghayati setiap senti dari ciptaan terbaik dari Sang Mahakarya, Allah Swt ini. Di kepala kita memiliki sepasang mata, sepasang telinga, sepasang bibir, sepasang alis, dan sepasang yang lain. Di bagian badan kita memiliki sepasang tangan juga sepasang kaki. Di dalam organ tubuh ada sepasang ginjal untuk menyaring darah, sepasang paru, sepasang hati, juga masih banyak sepasang yang lain. Segala organ tersebut oleh Allah telah diberikan tupoksinya masing-masing, tidak ada yang saling berebut dan berpasrah. Semuanya bekerja sesuai aturan yang berlaku. Andai saja terjadi kekacauan sedikit saja pada kerja organ-organ tersebut, apa yang akan terjadi? Silakan bayangkan sendiri ya! Bahkan penemuan terakhir menemukan pasangan dari materi, yaitu antimateri. Antimateri ini memiliki energi dahsyat untuk bisa menghancurkan atau mungkin membangun, tergantung bagaimana manusia menggunakan kebijakan menggunakannya. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Pada faktanya, Allah telah menciptakan segala sesuatu sedemikian apik dan teraturnya. Hanya saja manusia yang sering alpa untuk mengamati setiap detail lukisan Allah pada semesta. Ayat Allah bukan hanya yang ada pada al-quran yang setiap hari dibaca, namun diri kita pun merupakan ayat Allah. Bukti bahwa Allah itu nyata meski belum pernah kita melihatnya. Lagipula yang tidak terlihat belum tentu tidak nyata, bukan? Maka sudah sepatutnya kita -manusia lemah yang ilmunya hanya setetes air ini- bersyukur atas segala yang Allah berikan kepada kita. Ajakan bersyukur ini memang tampak klise, tapi toh nyatanya masih banyak sekali manusia yang abai bukan? Jangan-jangan kita sendiri abai terhadap bersyukur kepada Allah! Tengok sekeliling kita, di situ ada saudara/i kita yang sudah seharusnya kita jaga. Mari bersama menjadi manusia yang beruntung, yang saling menasehati dalam kebenaran juga kesabaran.

Demikian. Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh Devisa Gita Ambela (Sekretaris BKPM FPPI FKIP Unila)
Editor: Ana Zuhriatun Nisa (Sekretaris Bidang PMI FPPI FKIP Unila)

Muhammad bin Qasim Ats-Tsaqafi

Negeri Sind

Islam adalah serangkaian perjalanan teramat panjang yang terbentang sejak zaman manusia pertama diciptakan. Saat ini, agama Islam menjadi agama dengan jumlah umat terbanyak kedua setelah agama nasrani, dan jumlah umatnya terus meningkat seiring berjalannya waktu. Pembumian agama islam ini sudah tentu melalui rangkaian sangat panjang sebuah perjuangan. Perjuangan hidup dan mati dengan pengorbanan tertinggi yang diberikan oleh para pejuangnya, yakni sebuah nyawa. Ada banyak episode dalam perjuangan membumikan islam, di setiap episodenya banyak tokoh yang namanya tercatat sebagai pahlawan yang akan terus diingat dan dikenang.

Tentang seorang penakluk muslim pertama yang membumikan islam di tanah Sind dan Punjab yang memiliki akhir menyedihkan pada usia yang terbilang belia. Bukan karena dosanya, melainkan menjadi korban atas kebengisan permainan politik pada zamannya. Dialah, Muhammad bin Qasim Ats-Tsaqafi.

Nama lengkapnya Muhammad bin Qasim bin Muhammad bin Hakam Ats-Tsaqafi, pembebas negeri Sind dan Punjab, yaitu daerah Pakistan sekarang, yang merupakan salah satu negara Islam terbesar. Sejarah Muhammad bin Qasim Ats-Tsaqafi adalah bagian berharga dari sejarah Islam yang besar. Muhammad bin Qasim Ats-Tsaqafi dianggap sebagai pendiri pertama kali negara Islam di India. Oleh karena itu, namanya tetap agung dalam daftar para pahlawan pembebas.

Kelahirannya

Muhammad bin Qasim bin Muhammad bin Hakam Ats-Tsaqafi dilahirkan pada tahun 72 H/691 M di kota Thaif dalam keluarga yang terkenal. Kakeknya Muhammad bin Hakam termasuk pembesar Bani Tsaqafi. Pada tahun 75 H/694 M, Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi menjadi wali ‘am di Irak dan wilayah-wilayah timur yang ikut pemerintah Umawiyah pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Lalu Hajjaj mengangkat pamannya Qasim sebagai wali atas kota Bashrah, maka sang anak Muhammad bin Qasim ikut berpindah ke kota Bashrah, di mana ayahnya menjadi penguasa di situ. Karenanya, Muhammad sejak kecil tumbuh dan berkembang di antara para pemimpin dan panglima. Kemudian Hajjaj membangun Kota Wasith yang menjadi kamp atau barak untuk tentaranya yang dia bergantung kepadanya dalam berbagai peperangan. Kota Wasith kemudian dipenuhi dengan penduduknya yang baru dan kaum Hajjaj. Di kota ini dan juga di kota-kota lain di Irak, Muhammad bin Qasim tumbuh berkembang dan berlatih ketentaraan sampai dia menjadi salah satu komandan yang terkenal. Padahal umurnya pada waktu itu belum genap tujuh belas tahun.

Muhammad bin Qasim sering mendengar tentang Negeri Sind. Pada masa itu negeri itu tidaklah asing bagi kaum Muslimin. Karena di negeri ini sebelumnya telah terjadi peperangan, yaitu pada masa Khalifah Umar dan Khalifah Utsman ra. Kemudian perhatian orang Arab terhadap negeri Sind ini semakin bertambah ketika berdiri pemerintahan Umawiyah di tangan Khalifah Muawiyah pada tahun 40 H/661 M, sampai khalifah berhasil membebaskan daerah yang penting di negeri itu, yaitu daerah Mukran, yang setelah itu secara bergantian dan terus menerus diperintah oleh para wali Umawiyun (orang-orang Umawiyun).

Melawan Bajak Laut Sind

Peristiwa ini terjadi lpada tahun 88 H/707 M ketika sebuah kapal Arab datang dari Pulau Yaqut (negerib Silan) membawa para wanita muslimah. Ayah mereka telah mati sehingga di sana mereka tidak lagi mempunyai orang yang menjaga mereka. Maka para wanit aitu memutuskan untuk pergi mencari tempat tinggal di Irak. Raja Silan melihat hal itu merupakan kesempatan untuk mendekati Arab, maka dia setuju atas kepergian wanita-wanita itu. Bahkan raja itu memenuhi kapal itu dengan hadiah-hadiah untuk Hajjaj dan Khalifah Walid bin Abdul Malik. Namun ketika kapal sedang berada dalam perjalanan menuju kota Bashrah melewati pelabuhan Daibul di negeri Sind, para bajak laut dari Sind datang dan menguasai mereka. Mendengar itu, Al-Hajjaj menulis surat kepada raja Sind yang isinya memohon kepada raja untuk membebaskan para wanita itu dan kapal mereka. Akan tetapi, sang raja meminta maaf tidak dapat mengabulkan permohonan itu dengan alasan bahwa orang-orang yang membajak kapal adalah para penjahat yang dia tidak mampu melawannya. Maka kemudian Hajjaj mengirimkan dua pasukan ke Daibul. Yang pertama dipimpin Ubaidillah bin Nabhan As-Silmi, dan pasukan kedua dipimpin oleh Budail Al-Bajli. Akan tetapi dua pasukan ini gagal, bahkan dua pimpinan ini terbunuh di tangan pasukan Sind. Lalu datang berita kepada Hajjaj bahwa para wanita muslimah dan tentara-tentara Arab dipenjara di Daibul. Raja Sind tidak ingin melepaskan mereka karena menentang Arab. Inilah sebab yang mendorong Hajjaj mengirim tentara yang besar untuk membuka negeri ini, yang para bajak lautnya menyulitkan kapal-kapal dagang Arab melewati pelabuhan-pelabuhan negara-negara Arab menuju pelabuhan-pelabuhan negara India.

Kepemimpinan dan Penaklukannya

Hajjaj memutuskan untuk membuka negeri Sind semuanya. Dan dia menjatuhkan pilihannya kepada Muhammad bin Qasim Ats-Tsaqafi untuk memimpin tentara. Dan dia siapkan semua yang dibutuhkan Muhammad bin Qasim Ats-Tsaqafi di medan peperangan. Pahlawan ini kemudian menggerakkan pasukannya yang berjumlah enam ribu orang dari Irak menuju Syiraz pada tahun 90 H/709 M. Di Syiraz ini bergabung enam ribu tentara ke dalam pasukan Muhammad bin Qasim yang berangkat dari Irak. Setelah matang semua persiapan di Syiraz, berangkatlah Muhammad bin Qasim bersama dua belas ribu tentara menuju ke timur hingga sampai di Mukran, dari sana kemudian menuju ke Fanzabur, lalu ke Armail. Setelah itu pasukan muslimin menyerang kota Daibul. Mereka merobohkan tembok-temboknya, dan Muhammad bin Qasim memasuki kota itu. Setelah kota Daibul dibuka, dia meneruskan perjalanannya ke kota-kota lainnya untuk dibuka. Dia hancurkan tempat-tempat pemujaan kaum pagan (penyembah berhala), dan candi-candi Budha, lalu dia menyiarkan ajaran Islam. Dia tempatkan kaum muslimin di sana, dan membangun masjid-masjid. Sehingga peta negeri ini benar-benar berubah. Karena benar-benar telah diwarnai dengan warna islam.

Muhammad bin Qasim telah mampu menyihir orang-orang Hindustan dengan karakternya yang kuat dan teguh. Mereka sangat mengagumi keberaniannya dan sikap baiknya dalam memimpin pasukan, padahal usianya belum genap delapan belas tahun. Karena itu, banyak orang Zutthi yang telah memeluk Islam. Mereka adalah orang-orang badui India. Dan empat ribu orang dari mereka telah bergabung dengan Muhammad bin Qasim. Bergabungnya mereka berpengaruh besar dalam peperangan karena pengalaman mereka terhadap negeri itu dan pengetahuan mereka terhadap bahasa India.
Kemudian Muhammad bin Qasim berjalan menuju ke Birun (sekaran Heydarabad). Penduduk Birun menemuinya dan minta berdamai. Muhammad tidak pernah melewati sebuah kota pun kecuali membebaskannya, baik dengan damai maupun dengan peperangan. Dan dia lalui semua itu dengan kemenangan mengalahkan Dahir raja Sind. Muhammad terus melanjutkan penaklukannya, dia kuasai benteng Ruwad, kemudian Brahmanabad, Rur, dan Bahrur, lalu dia lewati sungai Bayas menuju ke daerah Multan. Dia kuasai daerah itu setelah melewati perang yang sengit. Di sini dia mendapatkan emas yang banyak.

Ibnu Qasim terus melanjutkan perjalanannya sehingga penaklukannya sampai pada perbatasan Kasymir. Oleh karena itu, Muhammad bin Qasim mampu membuat Sind tunduk kepada pemerintahan Islam hanya dalam kurun waktu tidak lebih dari tiga tahun. Muhammad bin Qasim terus melangsungkan penaklukannya di beberapa bagian negeri Sind yang tersisa sehingga berhenti pada tahun 96 M/715 H. Dengan demikian, berdiri pertama kali negara Arab di negeri Sind dan Punjab. Dan telah mendatanginya beberapa kabilah; Mid, Jat, dan Zutthi membunyikan lonceng kegembiraan menyambut kedatangannya. Karena Muhammad bin Qasim adalah yang membebaskan mereka dari kezhaliman orang-orang Hindustan yang memperbudak mereka.

Muhammad bin Qasim adalah orang yang matang pertimbangannya dalam berpikir dan merencanakan sesuatu, dia juga adil dan dermawan. Jika dibandingkan dengan para pahlawan Islam yang lain, mereka nyaris tidak dapat menyamainya dalam soal keberanian dan kepahlawanan. Sahabat-sahabat dan para musuhnya telah mengakui hal tersebut.

Akhir yang Menyedihkan

Ketika Muhammad bin Qasim merencanakan untuk mengarahkan tentara penaklukannya ke perbatasan India, khalifah yang baru, Sulaiman bin Abdul Malik, memerintahkannya untuk menuju ke Irak. Maka pemuda mukmin inipun mematuhi dan pasrah kepada kehendak Allah, karena dia tahu bahwa akibatnya adalah kebinasaan. Bukan karena dosa yang dilakukannya, tapi karena nasibnya yang tidak baik disebabkan berbagai manuver politik yang dilakukan oleh sahabatnya, Hajjaj. Pemuda yang sedih ini lalu bersiap-siap untuk pergi. Banyak mata yang sedih dan menangis melepas kepergiannya. Tidak hanya orang Arab saja yang menangisi nasibnya, bahkan penduduk Sind yang telah memeluk islam juga orang-orang Hindu dan Budha mereka ikut meneteskan air mata. Mereka berharap agar Ibnu Qasim tidak meninggalkan negeri Sind, dan mereka akan berdiri di belakangnya jika ada bahaya mengetuk pintu rumahnya. Namun jiwanya yang rendah hati menolak perintah khalifah.

Maka sampailah Muhammad bin Qasim di Irak. Lalu wali Irak Shalih bin Abdurrahman membelenggunya dengan rantai dan mengirimkannya ke kota Wasith disebabkan permusuhannya dengan Hajjaj. Dipenjara itu selama berbulan-bulan dia dihukum dengan berbagai macam hukuman, sehingga pahlawan ini meninggal pada tahun 96 H/715 M dalam usia yang belum genap mencapai 24 tahun.

Pahlawan Muhammad bin Qasim Ats-Tsaqafi adalah pembuka negeri Sind. Termasuk salah satu pahlawan besar dalam sejarah Islam. Dia adalah pahlawan dengan berbagai makna yang dikandung oleh kata kepahlawanan. Allah telah menitipkan di kedua pundaknya jiwa yang jauh dari ambisi untuk sungguh-sungguh mengabdi kepada Islam.

Diambil dari buku Para Penakluk Muslim yang tak Terlupakan karya Tamir Badar, dengan penambahan seperlunya oleh Ana Zuhriatun Nisa (Penerbitan dan Media Islam FPPI’16)

Air Mata yang Dicintai

Air mata yang dicintai

Menangis itu wajar kok!

Sudah berapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia? Bisakah manusia menghitungnya? Lalu sudah berapa banyak syukur yang telah manusia berikan atas nikmat dari Allah? Bisa dihitung? Bukankah manusia itu cenderung lebih banyak kufur dibanding syukur kepada-Nya? Tidak perlu terlalu jauh untuk mencari mana nikmat dari Allah. Cobalah berdiri di depan kaca dan amati dirimu! Satu nikmat kecil yang sering kamu abaikan adalah apa yang keluar dari kedua bola matamu. Dia yang sering disebut sebagai air mata.

Mari lupakan sejenak pengidentikan air mata dengan kesedihan. Menangis tidak selalu karena bersedih bukan? Banyak orang yang karena terlampau bahagia juga menangis. Banyak orang yang karena terlampau marah juga menangis. Bahkan tidak selalu karena emosi, menangis juga bisa disebabkan hal lain yang sama sekali tidak berkaitan dengan emosi. Mengupas bawang, misalnya. Itu juga bisa membuat manusia menangis, bukan? Jadi menangis itu wajar kok! Malah berdasarkan penelitian, menangis itu memiliki beberapa manfaat. Ya manfaat yang paling mudah dirasakan, menangis itu melegakan. Benar? Coba bayangkan andai manusia tidak diberi nikmat berupa air mata yang bisa dikeluarkan melalui sebuah tangisan, apa jadinya? Boleh jadi bola mata akan kering kerontang layaknya tanah yang tidak disiram hujan bertahun-tahun.

Mengenai air mata, ada jenis air mata yang dicintai oleh Allah Swt. Mau tahu air mata yang dicintai itu? Ikuti terus artikel ini ya!

Kenapa Wanita Lebih Sering Menangis Dibandingkan Pria?

Bukan rahasia lagi kalau wanita itu sesosok makhluk yang diciptakan dekat sekali dengan air mata. Wanita itu lebih mudah dan lebih sering menangis dibandingkan dengan pria. Kira-kira kenapa ya? –Iyalah kalau pria nangis nggak kelihatan cool- Eits jawaban itu tidak salah, tapi tidak benar juga. Lalu? Mari simak penjelasan berikut.
Menurut penelitian, ada 2 hal yang menyebabkan wanita lebih sering menangis daripada pria. Itu adalah karena hormon dan kondisi sosial.

Vengerhoets, yang juga penulis buku Why Only Humans Weep: Unravelling the Mysteries of Tears mengungkapkan bahwa rata-rata wanita menangis sebanyak 30 hingga 64 kali per tahun. Sedangkan untuk pria, rata-rata hanya menangis enam hingga 17 kali per tahunnya. Vingerhoets mengatakan, besar kemungkinan testosteron memengaruhi pria untuk tidak mempunyai keinginan menangis. Pada 1980-an, ahli biokimia, William Frey H. dan timnya menganalisis susunan kimiawi air mata emosional dan membandingkannya dengan air mata yang disebabkan oleh iritasi pada mata. Ternyata, air mata emosional mengandung prolaktin, hormon yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis yang berhubungan dengan emosi. Wanita dewasa cenderung memiliki kadar prolaktin serum hampir 60 persen di atas rata-rata dari pria. Perbedaan ini secara keseluruhan menjelaskan mengapa wanita lebih sering menangis.

Sebelum pubertas, kadar serum prolaktin pada perempuan dan laki-laki sama, mungkin ini sebabnya tingkat menangis anak laki-laki dan perempuan tak banyak berbeda.

“Beberapa penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa pria memiliki saluran air mata yang lebih besar di mata mereka, sehingga kecil kemungkinan untuk membuat air mata ke titik tumpah dari kelopak mata ke pipi,” kata Geoffrey Goodfellow, seorang profesor di Illinois College of Optometry di Chicago.

Menangis sendiri sering diidentikkan dengan perasaan tidak berdaya dan hanya dapat membuat seseorang merasa lebih baik ketika tangisannya itu dapat memperbaiki situasi yang dihadapinya.

Studi juga menunjukkan bahwa kenyamanan dari seseorang yang dekat, membuat orang berpikir bahwa menangis adalah ide yang baik. Jika menangis diidentikan dengan rasa malu, maka hal itu tidak dapat membuat merasa lebih baik. Artinya, menangis yang baik adalah tangisan yang dilakukan tanpa merasa buruk pada saat menangis.

Air Mata yang Dicintai Allah Swt

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya.” (HR. Tirmidzi [1633]).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; [1] seorang pemimpin yang adil, [2] seorang pemuda yang tumbuh dalam [ketaatan] beribadah kepada Allah ta’ala, [3] seorang lelaki yang hatinya bergantung di masjid, [4] dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya, [5] seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan kerkedudukan dan cantik [untuk berzina] akan tetapi dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, [6] seorang yang bersedekah secara sembunyi-sumbunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan [7] seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis).” (HR. Bukhari [629] dan Muslim [1031]).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi [1639], disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1338]).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah selain dua jenis tetesan air dan dua bekas [pada tubuh]; yaitu tetesan air mata karena perasaan takut kepada Allah, dan tetesan darah yang mengalir karena berjuang [berjihad] di jalan Allah. Adapun dua bekas itu adalah; bekas/luka pada tubuh yang terjadi akibat bertempur di jalan Allah dan bekas pada tubuh yang terjadi karena mengerjakan salah satu kewajiban yang diberikan oleh Allah.” (HR. Tirmidzi [1669] disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1363])

Keempat hadist nabi di atas memberitahukan bahwa air mata yang dicintai Allah Swt adalah air mata yang jatuh dari seorang hamba karena rasa takutnya kepada Allah. Air mata itu berderai mengingat begitu banyaknya dosa yang ia perbuat sementara nikmat yang Allah beri telah begitu banyak. Air mata itu berderai karena rasa takut dan khawatirnya Allah akan meninggalkannya mengingat telah terlalu sering dirinya mengabaikan Allah. Air mata itulah yang dicintai Allah. Mata itulah yang dicintai Allah. Dan hamba itulah yang juga dicintai Allah.

Selama ini manusia lebih sering menangis karena hal-hal yang bersifat duniawi, seperti kehilangan seorang yang dicintai, kehilangan harta, dan musibah yang lain. Hal itu memang sungguh tidak salah, karena memang sejatinya menangis adalah cara mata berbicara setelah mulut tidak mampu mengungkap apa yang dirasa. Tapi kenapa tangisan itu tidak dimuarakan pada muhasabah diri? Betapa musibah itu membawa diri pada perenungan bahwa itu adalah suatu bentuk teguran dari Allah karena sudah terlalu menggunung dosa yang dipunya.

Menangislah! Allah mencintai derai air mata dalam hening muhasabah diri karena takut kepada-Nya. Menangislah! Allah mencintai deras air mata dalam keberserahan diri kepada-Nya. Menangislah! Karena boleh jadi air mata itulah yang kelak membawa diri menuju surga untuk bertemu Allah azza wa jalla.

Penerbitan dan Media Islam FPPI’16, dari berbagai sumber.

Untukmu Jomblowan dan Jomblowati

]
Udah sampe Al Isra : 32 belum?

Adalah satu kebiasaan yang terlarang dalam islam namun telah mengakar dalam masyarakat. Akibatnya, kebiasaan itu menjadi perkara yang lumrah, wajar, dan tidak perlu dipermasalahkan. Kebiasaan tersebut adalah pacaran.
Pacaran dapat diartikan sebagai jalinan hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dengan (anggapan) tujuan sebagai persiapan atau pendekatan sebelum memasuki area pernikahan. Kaum remaja zaman sekarang telah akrab dengan pacaran. Larangan orang tua pun relatif longgar karena bukan dosa tolok ukurnya. Asalkan tidak mengganggu prestasi sekolah, SIM (Surat Izin Maksiat) keluar. Budaya pacaran telah merata dari pelajar usia SD hingga mahasiswa. Sampai-sampai, terdengar aneh saat seseorang menikah tanpa pacaran.

Sesuai dengan dalil yang ada dalam Islam, pacaran jelas hukumnya HARAM. Allah Swt berfirman dalam surat Al-Isra’ : 32.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan seburuk-buruk jalan.”
Maka, tak ada secuilpun alasan untuk membenarkan pacaran, termasuk dalam rangka pendalaman sebelum pernikahan. Pacaran senantiasa mengarahkan pelakunya kepada dosa dan maksiat. Atas nama cinta, pagar dapat diruntuhkan. Tak asing lagi pemandangan di taman-taman kota, pojok-pojok kampus, pojok-pojok sekolah, pinggir jalan, di kafe-kafe, dsb, yang jauh dari nilai-nilai Islam. Muda-mudi bebas bergaul, bercengkerama, berbaur suara tawa, bahkan tak jarang melakukan sentuhan fisik.

Astaghfirullah… (sad emoticon)

Padahal dalam sholat berjamaah saja antara laki-laki dan perempuan diwajibkan dengan jarak, apalagi di luar urusan peribadatan. Pemahaman dan penghayatan terhadap ilmu agama yang memudar semakin memperparah keadaan. Ketakutan adanya datangnya hari akhir dan pertanggungjawaban amalan diabaikan. Akhirnya, terjadilah pelanggaran-pelanggaran. Nafsu perlahan-lahan menguasai diri dan terus menyeru kepada kemungkaran. Naudzubillah.
Kondisi pergaulan remaja saat ini berada dalam kondisi memprihatinkan. Berbagai survei menunjukkan hasil yang mengejutkan. Survei yang dilakukan Komnas Perlindungan Anak terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar selama tahun 2007 memberikan fakta bahwa 97% remaja pernah menonton film porno, 93,7% pernah berciuman, petting, dan oral seks, 62,7% remaja SMP sudah tidak perawan serta 21,2% remaja SMU pernah aborsi. Sekjen Departemen Kesehatan (Depkes) Sjafi’i Ahmad menyatakan, informasi tentang pornografi akan mengubah pola perilaku seseorang sesuai dengan informasi yang diterimanya.

Sementara itu, 1,5 juta remaja di Jawa Timur dilaporkan mengidap HIV/AIDS, 13 ribu lebih remaja Jawa Timur menjadi pengguna narkoba suntik yang diawali dari usia SD dan 28,5% remaja telah melakukan hubungan seksual sebelum nikah. Jumlah aborsi di Indonesia setiap tahun mencapai 2,3 juta, 30% di antaranya dilakukan remaja. Derajat kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) pada remaja menunjukkan kecenderungan meningkat antara 150.000 hingga 200.000 kasus setiap tahun (Suara Surabaya.net)

Sudah saatnya para remaja khususnya kembali pada ajaran Islam. Hanya dengan kekuatan iman dan taqwalah generasi muda akan mampu menjaga diri dan tidak tergelincir proses pencarian jati diri. Mungkin mustahil untuk menjadi “sesempurna” Rumaisha RA, Salman Al-Farisi RA, atau Bilal bin Rabbah RA. Namun cukup dengan menjadi “jomblo mulia”, generasi muda akan terselamatkan dari kebejatan.

Jangan terpengaruh kepada fenomena pacaran yang bertebaran. Jangan merasa minder dengan sebutan “jomblo” yang biasanya berembel menderita, nestapa, atau hina. Sungguh, mereka yang pacaranlah yang sedang menerjunkan diri dalam kehinaan. Sedangkan kalian yang bertahan dalam kejombloan, sesungguhnya tengah menggapai derajat yang mulia. Berikut petunjuk syariat Islam untuk menjadi seorang jomblo mulia:
 Setiap muslim harus menjaga pandangan matanya dari melihat lawan jenis secara bebas
 Setiap muslim harus menjaga auratnya dengan cara berbusana syar’i, terutama bagi muslimah
 Jauhkan diri dari segala hal yang mendekatkan diri kepada zina
 Jauhkan diri dari berkata-kata yang dapat menimbulkan percik maksiat
 Hindarilah sentuhan kulit dengan lawan jenis, termasuk berjabat tangan
 Jauhkan diri dari ikhtilat atau berbaurnya laki-laki dan wanita dalam satu tempat
 Jauhkan diri dari zina.

Diambil dari buku Kutinggalkan dia karena Dia.

Jadi gimana? Masih mau pacaran? Kalau kata Ust Felix Siauw, Udah Putusin Aja!

Kau Akan Pergi, Tapi Tulisanmu Mungkin Tidak

^^
Menulislah

Membaca dan menulis seperti dua sekawan yang sulit dipisahkan, atau seperti xdomaret dan xfamart yang selalu berdekatan. Membaca yang di iringi dengan menulis akan membuat kita memiliki ingatan jangka panjang akan suatu hal. Tapi, kebanyakan dari kita memisahkan dua sekawan itu seolah tak bisa berjalan beriringan. Duh duh! sedih gak sih temennya dipisahin.

Jangankan menulis, membaca pun kita kadang ogah-ogahan. Sadar nggak sih kita tuh cendrung jadi orang pemilih. Baca yang buat kita tertarik aja, yang seru-seru aja, yang asik-asik aja. Atau menulis kalau dinilai dosen, setelahnya “maless”.

Padahal ayat pertama yang Allah turunkan ” Iqra’ ” bacalah, dengan pengulangan kata yang sama di ayat ketiga nya dalam surat Al-Alaq. Membaca merupakan awal dari ilmu pengetahuan dan awal dari sebuah peradaban.

Bagaimana caranya Sultan Muhammad Al-Fatih bisa menaklukkan Konstantinopel? Karena ada motivasi dari Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam. Hadits yang diucapkan jauh sebelum Sultan Muhammad Al-Fatih lahir yang menyebutkan:

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]

Dengan hadits tersebut Sultan Muhammad Al-Fatih berusaha menjadi sebaik-baik pemimpin hingga tibalah takdir Allah untuknya menaklukkan kota bersejarah itu.

Bagaimana bisa hadits itu sampai pada eranya Sultan Muhammad Al-Fatih? Yap! Karena ada para perawi hadits yang menjaga hadits itu sehingga sampai pada zaman itu, bahkan kepada kita semua. Bagaimana menjaganya sedangkan mereka pun sudah meninggal jauh sebelum kita lahir? Yaap! Ditulis.

Teman-teman sudah tau kan sekarang manfaat membaca dan menulis. Jadi jangan buang waktu. Sekarang membaca dan menulislah agar nanti anak cucu kita, orang-orang mendapatkan motivasi untuk menjadi lebih baik dari tulisan-tulisan kita.

“Apa yang lebih membuat bahagia dari amal jariah yang terus mengalir bahkan saat kita sudah tiada lagi?”

Kita akan pergi, tetapi tulisan kita mungkin tidak. Raga boleh saja mati, tapi tulisan kita mungkin tidak. Maka dari itu, menulislah! 🙂